"Tidaklah merugi orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran"

Minggu, 03 Juni 2012

Tanya Jawab Tatacara Rujuk Setelah Talak


Tatacara Rujuk
Posted by Farid Ma'ruf pada 3 Agustus 2011
Tanya :
Ustadz,
  bagaimana  cara  suami  rujuk  kepada  istri? Haruskah akad nikah ulang atau cukup suami bilang, Saya mau rujuk lagi sama kamu? (Dian, Cibubur)
Jawab :
Rujuk menurut istilah syar
i adalah kembali pada pernikahan setelah terjadi talak tak ba`in dengan tatacara tertentu. (Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, 2/108). Talak tak ba`in (thalaq ghair ba`in), atau talak raji, adalah talak yang masih dibolehkan rujuk, yaitu jatuhnya talak satu atau talak dua dan masih dalam masa iddah. Jika suami rujuk kepada istrinya dalam masa iddah, tak perlu akad ulang dan mahar baru. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtimai fi Al-Islam, hal. 154).
Adapun  jika  masa  iddah  sudah  habis  dan  tak dilakukan rujuk, talaknya menjadi talak ba`in. Ada dua macam  talak  ba`in.  Pertama,  talak  ba`in  sughra,  yaitu jatuhnya talak satu atau talak dua dan tak dilakukan rujuk dalam masa iddah. Dalam kondisi ini, jika suami ingin kembali kepada istrinya, wajib akad ulang dengan mahar baru.
Kedua, talak ba`in kubra, yaitu jatuhnya talak tiga. Dalam kondisi ini, jika suami ingin kembali kepada istrinya, wajib terwujud lima perkara berikut pada wanita tersebut; (1) menjalani masa iddahnya, (2) menikah dengan laki-laki lain (suami kedua), (3) pernah digauli suami keduanya, (4) ditalak suami keduanya dengan talak ba`in, atau suami keduanya wafat, dan (5) telah habis masa iddahnya. Jika lima perkara ini terwujud, suami pertama berhak kembali kepada bekas istrinya dengan akad ulang dan mahar baru. (Rawwas Qalah Jie, Mujam Lughah Al-Fuqaha`, 24 & 169; Taqiyuddin  Al-Husaini,  ibid.,  2/109;  Taqiyuddin  An-Nabhani, ibid., hal. 155; M. Mutawalli al-Shabbagh, Al-Idhah fi Ahkam An-Nikah, hal. 259).
Masa iddah adalah masa menunggu bagi wanita yang ditalak atau yang suaminya wafat untuk mengetahui kebersihan rahimnya. (Rawwas Qalah Jie, ibid., hal. 233). Masa iddah ada empat macam; Pertama, untuk wanita yang  masih  haid,  lamanya  adalah  tiga  quru`  (QS  Al-Baqarah: 228). Menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani, tiga quru` artinya tiga kali haid (seperti pendapat ulama mazhab  Hambali  dan  Hanafi),  bukan  tiga  kali  suci (pendapat  ulama  mazhab  Maliki,  Syafii,  dan  Jafari). (Taqiyuddin An-Nabhani, ibid., hal. 161). (2) Kedua, wanita yang sedang hamil, masa iddahnya sampai ia melahirkan. (QS Ath-Thalaq : 4). Ketiga, wanita yang sudah tak haid lagi (menopause), atau anak perempuan yang belum haid, masa iddahnya tiga bulan (QS Ath-Thalaq : 4). Keempat, wanita yang ditinggal mati suaminya, masa iddahnya 4 bulan 10 hari. (QS Al-Baqarah : 234). (Shalih Fauzan Al-Fauzan, Tanbihat Ala Ahkam Tukhtashshu bi Al-Mu`minat`, hal. 67-68).
Tatacara rujuk menurut pendapat yang rajih bagi kami, adalah hanya sah dengan ucapan (bil-kalam), tak sah dengan jima (bil-fili). Imam Syafii berkata, Adalah jelas bahwa  rujuk  hanya  dengan  ucapan,  bukan  dengan perbuatan seperti jima dan yang lainnya. (Imam Syafii, Al-Umm,  5/1950).  Rujuk  dengan  ucapan,  misalnya  suami berkata  kepada  istrinya,Saya  rujuk  lagi  kepadamu. (Taqiyuddin Al-Husaini, ibid., 2/108).
Disyaratkan ada dua orang saksi laki-laki, sehingga tak sah rujuk tanpa dua saksi yang mempersaksikan rujuk. (Taqiyuddin An-Nabhani, ibid., hal. 115). Dalilnya firman Allah SWT (artinya),Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu. (TQS Ath-Thalaq: 2). Ayat ini menunjukkan wajibnya dua saksi dalam rujuk. Ini salah satu  pendapat  mazhab  Syafii.  (Imam  Syairazi,  Al-Muhadzdzab, 2/103; Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 2/68).
Kesimpulannya, selama masih dalam masa iddah, suami berhak merujuk istrinya tanpa akad nikah ulang dan mahar baru. Caranya hanya dengan ucapan dan wajib dipersaksikan dengan dua orang saksi laki-laki yang adil. Wallahu alam.[]
Sumber : http://mediaumat.com/ustadz-menjawab/2995-56-tatacara-rujuk.html

(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII)
PERTANYAAN :
1.      Istri yang ditalak satu atau dua dan setelah itu rujuk, bagaimanakah tata cara rujuk yang syari?
2.      Apabila masa iddah belum habis, apakah harus membuat akad nikah baru?
3.      Apabila masa iddah telah habis, bagaimanakah cara rujuk yang sesuai syari?
Jazakallahu khairan.
M. Iqbal, Kepri

JAWABAN :
Agama Islam sangat menjaga keutuhan biduk rumah tangga kaum muslimin. Hal ini bisa dilihat dalam pengaturan tentang perceraian (talak), bahwasanya Islam tidak menjadikan talak hanya sekali, namun sampai tiga kali.
Disebutkan dalam firman Allâh Ta'ala :
(Qs. al-Baqarah/2:229)
Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.
Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma
ruf
atau menceraikan dengan cara yang baik.
(Qs. al-Baqarah/2:229)

Juga adanya pensyariatan
iddah. Yaitu masa menunggu bagi yang ditalak, seperti tersebut dalam firman-Nya:
(Qs. ath-Thalâq/65:1)
Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu,
maka hendaklah kamu ceraikan mereka
pada waktu mereka dapat (menghadapi)
iddahnya (yang wajar),
dan hitunglah waktu
iddah itu serta bertakwalah kepada Allâh Rabbmu.
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka,
dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar,
kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.
(Qs. ath-Thal
âq/65:1)

Dengan demikian, seorang suami yang menceraikan istrinya satu kali, ia masih memungkinkan untuk memperbaiki kembali bila dirasa hal itu perlu dan baik bagi keduanya. Semua ini menunjukkan perhatian Islam yang sangat besar dalam pembangunan rumah tangga yang kokoh dan awet.
Adapun syarat sahnya rujuk, di antaranya:
1.      Rujuk setelah talak satu dan dua saja, baik talak tersebut langsung dari suami atau dari hakim.
2.      Rujuk dari istri yang ditalak dalam keadaan pernah digauli. Apabila istri yang ditalak tersebut sama sekali belum pernah digauli, maka tidak ada rujuk. Demikian menurut kesepakatan ulama.
3.      Rujuk dilakukan selama masa iddah. Apabila telah lewat masa iddah -menurut kesepakatan ulama fikih- tidak ada rujuk.

Dalam rujuk, tidak disyaratkan keridhaan dari wanita. Sedangkan bila masih dalam masa
iddah, maka anda lebih berhak untuk diterima rujuknya, walaupun sang wanita tidak menyukainya. Dan bila telah keluar (selesai) dari masa iddah tetapi belum ada kata rujuk, maka sang wanita bebas memilih yang lain. Bila wanita itu kembali menerima mantan suaminya, maka wajib diadakan nikah baru.
Allâh Ta'ala menyatakan dalam firman-Nya, yang artinya:
"Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.
Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan All
âh dalam rahimnya,
jika mereka beriman kepada All
âh dan hari akhirat.
Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu
jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah.
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang ma
ruf.
Akan tetapi para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.
Dan All
âh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Qs. al-Baqarah/2 ayat 228)

Di dalam Fathul B
âri, Ibnu Hajar rahimahullâh mengatakan:
Para ulama telah bersepakat, bahwa bila orang yang merdeka menceraikan wanita yang merdeka setelah berhubungan suami istri, baik dengan talak satu atau dua, maka suami tersebut lebih berhak untuk rujuk kepadanya, walaupun sang wanita tidak suka. Apabila tidak rujuk sampai selesai masa iddahnya, maka sang wanita menjadi orang asing (ajnabiyah), sehingga tidak halal baginya, kecuali dengan nikah baru. [1]
Cara untuk rujuk, ialah dengan menyampaikan rujuk kepada istri yang ditalak, atau dengan perbuatan. Rujuk dengan ucapan ini disahkan secara ijma oleh para ulama, dan dilakukan dengan lafazh yang sharih (jelas dan gamblang), misalnya dengan ucapan saya rujuk kembali kepadamu atau dengan kinayah (sindiran), seperti ucapansekarang, engkau sudah seperti dulu. Kedua ungkapan ini, bila diniatkan untuk rujuk, maka sah. Sebaliknya, bila tanpa diniatkan untuk rujuk, maka tidak sah.
Sedangkan rujuk dengan perbuatan, para ulama masih bersilang pendapat, namun yang rajih (kuat) -insya Allâh- yaitu dengan melakukan hubungan suami istri atau muqaddimahnya, seperti ciuman dan sejenisnya dengan disertai niat untuk rujuk.
Demikian ini pendapat madzhab Malikiyah dan dirajihkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh dan Syaikh as-Sadi rahimahullâh.[2] Apabila disertai dengan saksi, maka itu lebih baik, apalagi jika perceraiannya dilakukan di hadapan orang lain, atau sudah diketahui khalayak ramai.
Wallahu alam.
http://majalah-assunnah.com/images/naskah/garis.gif
Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).
Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).

Tata Cara dan Adab Rujuk

Iko Ivanov
Hal apa yang menjadikan rujuk itu sah? Bagaimana tata cara melakukan rujuk? Apakah diucapkan pada isteri atau wali/orang tua isteri? Apakah rujuk diperlukan saksi, kalau iya, berapa? Massa iddah berapa hari?
Jawaban
Assalamualaikum Wr. Wb. Rujuk adalah kembalinya pasangan ke dalam status suami istri yang sah setelah terjadinya thalaq. Ketika pasangan suami istri melakukan thalaq yang dijatuhkan oleh suami, maka otomatis hubungan suami istri antara keduanya menjadi putus. Karena telah terjadi thalaq satu. Namun tidak secara total. Karena syariat memberikan suatu masa tertentu untuk rujuk atau kembali. Ini adalah bentuk hikmah syariyah dimana pasangan itu masih diberi kesempatan untuk berpikir ulang dalam suasana yang lebih tenang. Masa itu adalah masa iddah yang lamanya adalah tiga kali suci dari haidh buat si istri menurut pendapat yang rajih dari jumhur ulama. Jika dalam masa iddah itu suami berubah pikiran dan ingin kembali lagi kepada istrinya (rujuk), maka cukup dilakukan dengan perbuatan saja seperti hubungan suami istri, tanpa disyaratkan dengan lafaz tertentu. Juga tidak dibutuhkan saksi-saksi dari pihak lain. Karena masalah ini adalah masalah internal keluarga itu. Selama masa iddah, seorang wanita masih menjadi hak suaminya. Dia tidak boleh menerima lamaran orang lain apalagi menikah dengan laki-laki lain. Namun bila rujuk baru dilakukan setelah masa iddah terlewati (tiga kali masa suci dari haidh), hubungan suami istri telah putus total. Untuk bisa rujuk dibutuhkan pernikahan baru lagi dengan mas kawin yang baru, juga harus ada wali dan dua orang saksi yang menyaksikan pernikahan itu. Hanya dengan pernikahan baru lagi itulah hubungan suami istri bisa dilaksanakan kembali.
Di masa berikutnya, bila terjadi lagi masalah antara keduanya dan suaminya menjatuhkan thalaq, berarti sekarang sudah thalaq dua. Kasusnya masih sama persis dengan thalak satu dimana selama masa iddah masih berlaku, suami masih berhak untuk rujuk (kembali) pada istrinya tanpa harus dengan ikrar atau syarat tertentu. Cukup dengan perbuatan yang mencerminkan hubungan suami istri (jima) maka rujuk mereka sudah resmi. Dan bila setelah melewati masa iddah, harus dengan nikah baru lagi. Dan ini adalah batas terakhir untuk kasus rujuk seperti ini. Karena bila thalaq itu terjadi lagi untuk yang ketiga kalinya, maka hubungan suami istri itu benar-benar telah putus total dan tidak ada kesempatan untuk rujuk. Juga tidak ada masa iddah. Sekali jatuhkan thalaq untuk yang ketiga, maka saat itu pula putus hubungan suami istri.
Masih mungkinkah rujuk? Rujuk dari thalaq tiga hanya boleh dilakukan bila ada muhallil. Yaitu si istri yang telah dithalaq itu telah menikah dengan laki-laki lain dengan nikah yang syari dan serius, bukan sekedar membuat alasan yang membolehkan. Dan bila pada waktu tertentu atas taqdir Allah- mereka bercerai, maka barulah suami yang pertama tadi boleh menikahinya dengan syarat bahwa iddah wanita itu atas thalaq dari suami kedua telah berakhir.
WallahuAlam bis-Shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bersetubuh dengan Istri yang Sudah Ditalak dan Cara rujuk dengan yang sudah ditalak

Berhubungan badan dengan mantan istri yang telah ditalak satu, bisa jatuh hukum sebagai rujuk, terutama bila diiringi dengan niat untuk merujuknya. Tapi bila tanpa niat untuk merujuknya, menurut As-Syafi'iyah merupakan hal yang diharamkan, sebab hubungan mereka bukan suami-isteri.
Namun lebih detailnya, kita dapati bahwa para ulama berbeda-beda pendapat dalam hal ini. Seluruh ulama sepakat menyatakan bahwa bila talak satu telah dijatuhkan, maka masih ada kesempatan untuk melakukan rujuk antara suami istri. Rujuknya ada 2 cara.
Pertama, rujuk yang harus dengan nikah ulang. Yaitu bila terlambat untuk melakukan rujuk hingga isteri selesai dari masa iddahnya. Maka haruslah suami mengajukan lamaran lagi dari awal, kemudian membayar mas kawin baru, lalu melakukan kembali akad nikah dengan wali yang disaksikan oleh minimal 2 orang saksi laki-laki yang adil.
Kedua, rujuk begitu saja tanpa ada nikah ulang. Ini boleh dilakukan asalkan masih dalam masa iddah isteri, yaitu selama tiga kali masa suci dari haidhnya. Ketetapan ini telah dipastikan oleh Allah SWT langsung di dalam firman-Nya:
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali quru' . Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.
Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah: 228) Namun para ulama berbeda pendapat tentang teknis rujuk yang masih dalam masa iddah ini, sebagian mengatakan cukup dengan melakukan persetubuhan saja, sebagaian lain mengatakan harus dengan niat yang mengiringi di dalam hati. Sebagian lainnya lagi mengatakan cukup dengan percumbuan di antara keduanya tanpa harus bersetubuh.
Berikut ini keterangan lebih detailnya sebagaimana tercantum dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. Al-Hanafiyah cenderung mengatakan bahwa rujuk itu sah dilakukan walau tanpa niat sekalipun. Bila seorang laki-laki tanpa niat untuk merujuk melakukan hubungan seksuali dengan wanita yang telah diceraikannya, maka tindakannya itu sudah sah secara hukum sebagai penetapan rujuknya mereka. Tentu saja selama wanita yang ditalak itu masih dalam masa iddahnya. Pendapat ini menambahkan meski pun hanya sekedar meraba atau menyentuh, termasuk menciumnya baik di bibir, pipi, kening atau dahi, sudah sah sebagai rujuk. Bahkan meski ketika menciumnya dengan cara mencuri-curi, atau ketika mantan istrinya itu sedang tidur, atau tidak mau, atau pun dalam keadaan tidak sadar, seperti gila atau ideot. Dan tindakan itu sama saja baik dilakukan dengan syahwat atau pun tidak, tetap sah sebagai rujuk. Syaratnya hanyalah asal suami melakukannya dan dia mengakui secara sengaja melakukannya.

As-Syafi'iyah lebih cenderung kepada pendapat yang mensyaratkan adanya niat di dalam hati suami untuk rujuk, di mana niat itu mendampingi tindakan-tindakannya. Tapi kalau hanya sekedar melakukan percumbuan begitu saja tanpa ada niat di dalam hati untuk rujuk, maka belum sah sebagai rujuk. Bahkan meski sampai terjadi persetubuhan di antara mereka berdua, tetap belum dikatakan rujuk, bila suami tidak berniat untuk rujuk. Dan bila sampai demikian, hal itu merupakan tidakan yang diharamkan karena ada pembatas talak di antara keduanya. Untuk itu, cukuplah di dalam hati suami berniat untuk merujuknya, maka wanita mantan istri yang sudah dijatuhi talak satu itu otomatis menjadi halal kembali saat itu juga.

Al-Hanabilah dalam salah satu riwayat pendapatnya mengatakan bahwa asalkan sudah terjadi persetubuhan antara mantan suami istri itu dalam masa 'iddah, maka resmilah rujuk terjadi di antara mereka. Meski pun saat bersetubuh itu, suami belum berniat untuk merujuknya. Tapi kalau baru sekedar mencium atau menyentuhnya dengan nafsu syahwat, belum termasuk rujuk. Namun dalam riwayat lainnya, ciuman dan sentuhan itu sudah dianggap sebagai bentuk rujuk.
Dikutib dari sebuah sumber (anonymous)
Silakan baca:


Apakah Cerai dan Rujuk Harus Ada Saksi?

May 5, 2011
Pertanyaan:
Saya ingin bertanya beberapa hal tentang rumah tangga. Semoga Ustadz berkenan memberikan jawaban secara ilmiah/syari. Saya harap, hal ini akan bermanfaat bagi saya dan siapa saja yang mungkin suatu saat akan mengalaminya.
Bagaimana perceraian yang dilakukan tanpa ada saksi? Hukumnya sah atau tidak? Bagaimana pula ketika akan rujuk? Apakah perlu adanya saksi agar sah atau tidak? Kemudian, ketika talak satu sudah habis masa iddah-nya dan tidak ada rujuk, bagaimana status perkawinannya? Demikian Ustadz pertanyaan saya, semoga Ustadz berkenan untuk menjawabnya.

Jawaban:

Tidak ada seorang muslim pun yang ingin kehidupan rumah tangganya pecah. Segala cara dan kiat dicari untuk mempertahankan bahtera rumah tangga. Apabila tidak mungkin berbaikan kecuali dengan berpisah, maka apa boleh buat, langkah yang sulit dan getir itu pun harus diambil. Islam memberikan aturan yang indah dalam kasus ini dengan mensyariatkan talak (perceraian), rujuk (damai kembali bersatu), dan masa iddah menjadi tiga: dua dengan rujuk, yaitu talak satu dan dua serta satu tanpa rujuk, yaitu talak tiga atau talak bain, sebagaimana firman Allah,
الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
Talak (yang dapat dirujuk) itu sebanyak dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi dengan cara yang maruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (QS. Al-Baqarah:229)
Para ulama sepakat bahwa keberadaan saksi tidak disyariatkannya dalam perceraian, sebagaimana dijelaskan Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nail Al-Authar, 6:267. Namun, para ulama masih berselisih tentang kewajiban adanya saksi dalam rujuk. Pendapat yang rajih dalam hal ini adalah yang berpendapat bahwa saksi tidak wajib ada, namun bila ada saksi maka itu yang lebih baik.
Para ulama, yang tidak mewajibkan saksi dalam rujuk, berselisih pendapat dalam cara rujuk yang diakui syariat. Ada yang menyatakan bahwa cukup dengan berhubungan suami-istri, ada yang menyatakan bahwa harus dengan niat rujuk, dan ada yang menyatakan bahwa harus dengan ucapan. Pendapat yang rajih adalah bahwa rujuk dikatakan sah dengan adanya perbuatan atau perkataan yang menunjukan rujuknya kedua pasutri tersebut, baik dengan hubungan suami-istri atau perkataan. Hal tersebut menyelishi opini sebagian kaum muslimin bahwa rujuk memerlukan prosedur yang berbelit-belit, sehingga orang yang berkeinginan rujuk malah tidak jadi melakukan rujuk hanya karena prosedur tersebut.
Islam mensyariatkan iddah (masa menunggu) agar sang suami dapat meralat kembali talaknya, setelah hilang rasa marah dan tidak sukanya lalu muncul perasaan ingin memperbaiki bahteranya. Oleh karena itu, sang suami dilarang mengusir istrinya dari rumah, dan istri yang dicerai dengan talak satu atau dua tersebut juga tidak boleh pergi untuk tinggal di luar rumahnya. Hal ini jelas ditegaskan Allah dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْراً
Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar, kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah batasan-batasan dari Allah. Barang siapa yang melanggar batasan-batasan Allah, sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui bahwa barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. (QS. Ath-Thalaq:1)
Apabila Allah berikan rasa ingin rujuk pada hati sang suami dalam masa iddah tersebut maka sang istri wajib menerimanya walaupun ia tidak suka. Namun, bila tidak ada rujuk sampai habis masa iddah-nya maka sang wanita menjadi bebas dan tidak ada keterikatan dengan suaminya terdahulu itu.
Jika keduanya sepakat untuk kembali bersatu setelah itu maka pernikahan yang baru wajib untuk dilakukan . Hal ini merupakan kesepakatan para ulama, sebagaimana pernyataan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Para ulama telah bersepakat bahwa bila lelaki yang merdeka mencerai wanita yang merdeka setelah berhubungan suami istri, baik talak satu atau dua, maka suami tersebut lebih berhak untuk rujuk kepadanya walaupun sang wanita tidak suka. Apabila tidak rujuk sampai selesai masa iddahnya maka sang wanita menjadi orang asing (ajnabiyah), sehingga tidak halal baginya, kecuali melalui pernikahan baru.
Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan bermanfaat.
Sumber: Majalah Nikah, Vol. 3, No. 12, Maret, 2005.
Dengan penyuntingan oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com
Artikel www.KonsultasiSyariah.com


Bagaimana Tata Cara Rujuk Yang Syar'i?

Senin, 23 Juli 2007 01:06:55 WIB

TALAK

Pertanyaan.
Istri yang ditalak satu atau dua dan setelah itu rujuk, bagaimanakah tata cara rujuk yang syar
i? Apabila masa iddah belum habis, apakah harus membuat akad nikah baru? Apabila masa iddah telah habis, bagaimanakah cara rujuk yang sesuai syari? Jazakallahu khairan. [M. Iqbal, Kepri, 08526497xxxx]


Jawaban.
Agama Islam sangat menjaga keutuhan biduk rumah tangga kaum muslimin. Hal ini bisa dilihat dalam pengaturan tentang perceraian (talak), bahwasanya Islam tidak menjadikan talak hanya sekali, namun sampai tiga kali.

Disebutkan dalam firman All
âh Subhanahu wa Ta'ala.

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma
ruf atau menceraikan dengan cara yang baik". [Al-Baqarah/2:229]

Juga adanya pensyariatan
iddah. Yaitu masa menunggu bagi yang ditalak, seperti tersebut dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ

"Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi)
iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktuiddah itu serta bertakwalah kepada Allâh Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka, dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar, kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.[Ath-Thalâq/65:1]

Dengan demikian, seorang suami yang menceraikan istrinya satu kali, ia masih memungkinkan untuk memperbaiki kembali bila dirasa hal itu perlu dan baik bagi keduanya. Semua ini menunjukkan perhatian Islam yang sangat besar dalam pembangunan rumah tangga yang kokoh dan awet.

Adapun syarat sahnya rujuk, di antaranya:

1. Rujuk setelah talak satu dan dua saja, baik talak tersebut langsung dari suami atau dari hakim.

2. Rujuk dari istri yang ditalak dalam keadaan pernah digauli. Apabila istri yang ditalak tersebut sama sekali belum pernah digauli, maka tidak ada rujuk. Demikian menurut kesepakatan ulama.

3. Rujuk dilakukan selama masa
iddah. Apabila telah lewat masa iddah -menurut kesepakatan ulama fikih- tidak ada rujuk.

Dalam rujuk, tidak disyaratkan keridhaan dari wanita. Sedangkan bila masih dalam masa
iddah, maka anda lebih berhak untuk diterima rujuknya, walaupun sang wanita tidak menyukainya. Dan bila telah keluar (selesai) dari masa iddah tetapi belum ada kata rujuk, maka sang wanita bebas memilih yang lain. Bila wanita itu kembali menerima mantan suaminya, maka wajib diadakan nikah baru.

All
âh Subhanahu wa Ta'ala menyatakan dalam firman-Nya :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru
. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allâh dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allâh dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Al-Baqarah/2 ayat 228]

Di dalam Fathul B
âri, Ibnu Hajar rahimahullâh mengatakan: Para ulama telah bersepakat, bahwa bila orang yang merdeka menceraikan wanita yang merdeka setelah berhubungan suami istri, baik dengan talak satu atau dua, maka suami tersebut lebih berhak untuk rujuk kepadanya, walaupun sang wanita tidak suka. Apabila tidak rujuk sampai selesai masa iddahnya, maka sang wanita menjadi orang asing (ajnabiyah), sehingga tidak halal baginya, kecuali dengan nikah baru. [1]

Cara untuk rujuk, ialah dengan menyampaikan rujuk kepada istri yang ditalak, atau dengan perbuatan. Rujuk dengan ucapan ini disahkan secara ijma
oleh para ulama, dan dilakukan dengan lafazh yang sharih (jelas dan gamblang), misalnya dengan ucapan saya rujuk kembali kepadamu atau dengan kinayah (sindiran), seperti ucapansekarang, engkau sudah seperti dulu. Kedua ungkapan ini, bila diniatkan untuk rujuk, maka sah. Sebaliknya, bila tanpa diniatkan untuk rujuk, maka tidak sah.

Sedangkan rujuk dengan perbuatan, para ulama masih bersilang pendapat, namun yang rajih (kuat) -insya All
âh- yaitu dengan melakukan hubungan suami istri atau muqaddimahnya, seperti ciuman dan sejenisnya dengan disertai niat untuk rujuk.

Demikian ini pendapat madzhab Malikiyah dan dirajihkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahull
âh dan Syaikh as-Sadi rahimahullâh.[2] Apabila disertai dengan saksi, maka itu lebih baik, apalagi jika perceraiannya dilakukan di hadapan orang lain, atau sudah diketahui khalayak ramai.

Wallahu a
lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tafs
îr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).
[2]. Lihat Tafs
îr Ibnu Katsîr (4/34).
http://almanhaj.or.id/content/2184/slash/0

Tatacara Rujuk Sesuai Syariat Islam

Shodiq Ramadhan | Senin, 19 Maret 2012 | 12:43:31 WIB | Hits: 995 | 0 Komentar
Diasuh oleh:
Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang, Jawa Timur
Pertanyaan kirim ke: redaksi@suara-islam.com

Assalamu'alaikum. Shobahal Khoir ya ustadz.
Saya salah satu jamaah masjid Al-Ishlah ingin bertanya seputar rujuk. Saya mempunyai anak (6). Istri saya meninggalkan saya selama empat tahun. Kemudian kami berdua ingin Rujuk dengan alasan; anak dan cucu. Yang saya tanyakan; bagaimana cara rujuk dalam Islam dan bagaiamana pelaksanaannya. Wassalamu'alaikum ya ustadz

Suhanda, Gg Lontar Bawah, HP: 08571602xxxx

Jawaban:

Wa'alaikumussalam Warahmatullah.
Tatacara Rujuk adalah berkata kepada Istri yang telah ditalak yang masih dalam masa Iddah dengan ucapan: "Aku telah Rujuk (atau lafadz yang semakna) denganmu" dengan menghadirkan dua saksi, atau berkata kepada dua saksi (tanpa keberadaan istri) dengan ucapan; "Aku telah Rujuk dengan istriku (atau lafadz yang semakna). Semua ini sah dilakukan tanpa disyaratkan adanya wali, Mahar, dan ridha istri. Tahu atau tidaknya istri juga tidak dipertimbangkan dalam Rujuk.

Rujuk harus dilakukan dengan ucapan selama mampu. Artinya, Rujuk dianggap sah jika dilafalkan. Adapun Rujuk dengan perbuatan seperti Jimak (baik dengan niat Rujuk maupun tanpa niat) atau Muqoddimah Jimak seperti mencium, meremas, meraba, memandang dengan syahwat, apalagi sekedar berkhalwat maka semua itu belum cukup untuk menghukumi bahwa Rujuk telah berlaku. Argumentasi bahwa Rujuk harus dengan ucapan adalah sebagai berikut;

Pertama; Allah memerintahkan Rujuk menghadirkan dua saksi. Allah berfirman;

{
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ } [الطلاق: 2]

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka Rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu
(At-Thalaq;2)

Tidak mungkin Allah memrintahkan untuk mempersaksikan Jimak atau muqoddimahnya, karena melihat hal demikian hukumnya haram. Perintah mempersaksikan Rujuk bermakna perintah mempersaksikan ucapan Rujuk yang diucapkan oleh suami agar orang lain tahu sebagaimana persaksian terhadap ucapan akad nikah.

Tidak bisa dikatakan bahwa setelah Jimak orang bisa mempersaksikan bahwa dirinya telah Rujuk. Alasan ini tidak bisa diterima karena persaksian yang diperintahkan adalah saat terjadi Rujuk, bukan mempersaksikan atas Iqror (pengakuan) Rujuk. Lagipula, jika dia telah mempersaksikan dengan ucapannya bahwa dia telah Rujuk, maka keabsahan Rujuknya adalah dari ucapannya, bukan dari Jimak
  atau muqoddimahnya.

Kedua; Nabi menetapkan bahwa Nikah, cerai dan Rujuk berlaku baik dilakukan dengan serius maupun canda. Abu Dawud meriwayatkan;

سنن أبى داود - م (2/ 225)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ».

"Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga perkara, seriusnya dihukumi serius dan candanya (tetap) dihukumi serius, yaitu; nikah, talak, dan Rujuk" (H.R.Abu Dawud).

Sudah lazim diketahui bahwa maksud nikah serius atau canda adalah mengucapkan akad nikah baik serius ataupun canda. Demikianpula talak, yang dimaksud adalah mengucapkan lafadz talak baik serius maupun canda. Oleh karena itu hadis ini menunjukkan bahwa Rujuk itu dilakukan dengan ucapan sebagaimana akad nikah dan talak.

Ketiga; Allah menyebut talak dan Rujuk dalam Siyaq (konteks) yang sama, misalnya;

{
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ } [البقرة: 231]

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka Rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula).
(Al-Baqoroh; 231)

Ini menguatkan argumentasi sebelumnya, yaitu talak dan Rujuk itu semakna dari sisi sama-sama dilakukan dengan ucapan.

Lagipula, kebolehan untuk menjimaki wanita adalah dengan akad nikah yang diucapkan secara lisan. Karena itu rujuk semakna dengan hal ini, karena Rujuk bermakna ingin mengembalikan wanita yang ditalak sebagaimana istrinya saat belum ditalak.

Jika suami tidak sanggup mengucapkan seperti karena bisu atau ada penyakit, maka Rujuk sah dengan sesuatu yang mewakili ucapan seperti tulisan atau isyarat.

Lafadz yang dipakai adalah Rujuk atau yang semakna seperti Rodd (mengembalikan), dan Imsak (menahan) karena lafadz itulah yang dipakai dalam Nash. Lafadz Rujuk misalnya dipakai Nabi ketika memerintahkan Ibnu Umar merujuk kembali istrinya. Bukhari meriwayatakan;

صحيح البخاري (16/ 292)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا

Dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma, bahwa pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia pernah menceraikan isterinya dalam keadaan haid, maka Umar bin Al Khaththab pun menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah agar ia meruju'nya"
(H.R. Bukhari)

Lafadz Rodd dipakai Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman;

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

Dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah (Al-Baqoroh.228)

Lafadz Imsak juga dipakai Allah dalam Al-Quran;

{
الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ} [البقرة: 229]

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh Rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik
(Al-Baqoroh; 229)

Oleh karena itu jika seorang suami mengatakan kepada istrinya "Aku telah Rujuk kepadamu" atau "aku mengembalikanmu sebagai istriku sebagaimana semula" atau "aku menahanmu lagi dan tidak jadi kuceraikan" atau yang semakna dengannya, maka Rujuknya sah.

Adapun mempersaksikan ucapan Rujuk kepada dua saksi yang adil, maka hal ini didasarkan pada perintah Allah dalam surat At-Thalaq. Allah berfirman;

{
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ } [الطلاق: 2]

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka Rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu
(At-Thalaq; 2)

Namun, mempersaksikan ini hukumnya sunnah, tidak wajib dan tidak menjadi syarat sah karena tidak ada qorinah yang menunjukkan kewajibannya atau dijadikannya persaksian sebagai syarat sah Rujuk. Mempersaksikan saat Rujuk hanyalah anjuran saja agar tidak timbul persoalan (seperti perselisihan dengan istri) sebagaimana anjuran mempersaksikan akad hutang piutang yang disebutkan dalam Al-Quran;

{
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282]

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu).
(Al-Baqoroh; 282)

Tidak adanya syarat Wali dan mahar karena Rujuk bukan akad nikah. Oleh karena itu tidak perlu disediakan sesuatu yang hanya wajib disediakan untuk akad nikah. Lagipula tidak ada nash yang menunjukkan bahwa dalam Rujuk harus menghadirkan wali dan menyediakan mahar.

Ridha istri maupun tahu tidaknya dia juga tidak diperhatikan, karena Rujuk bukan akad. Rujuk adalah hak suami saja bukan hak istri sebagaimana talak juga menjadi hak suami saja bukan hak istri. Allah menegaskan bahwa Rujuk adalah hak suami. Allah berfirman;

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

Dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah
(Al-Baqoroh.228)

Namun, patut dicatat bahwa hukum Rujuk hanya berlaku jika istri telah ditalak. Keharusan terealisasinya talak ini didasarkan pada ketentuan dalam Al-Quran yang mensyariatkan Rujuk hanya dalam kondisi istri telah ditalak. Misalnya dalam ayat berikut;

{
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah (Al-Baqoroh;228)

Tampak dengan jelas bahwa syariat Rujuk yang diungkapkan dengan lafadz;

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا }

dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah

Hanya disyariatkan kepada wanita yang berstatus Muthollaqoh (telah ditalak)
Demikian pula ayat berikut;

{
الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ} [البقرة: 229]

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh Rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik (Al-Baqoroh; 229)

Syariat Rujuk yang diungkapkan dengan lafadz;

فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ

setelah itu boleh Rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf

Hanya diperlakukan setelah adanya talak.

Rujuk juga hanya bisa dilakukan di masa Iddah. Jika masa iddah sudah berakhir maka hak Rujuk telah hilang dan istri telah resmi menjadi orang lain. Jadi, jika pihak lelaki ingin menjadikannya lagi menjadi istri, maka hal itu dilakukan dengan akad nikah baru, mahar baru dan wali.

Atas dasar ini, jika istri yang telah meninggalkan suami selama empat tahun pada aksus yang ditanyakan itu semata-mata meninggalkan tanpa ada lafadz talak/cerai dari suami, maka tidak perlu Rujuk karena tidak ada talak dan tidak ada masa Iddah. Kondisi istri yang demikian tidak lebih disebut Nusyuz (pembangkangan), yakni maksiat dari pihak istri yang membuatnya kehilangan hak-hak istri seperti nafkah dan lain-lain. Untuk kembali menjadi istri langsung saja berkumpul dengan suami dalam satu rumah sebagaimana suami-istri normal. Istri hanya wajib meminta maaf kepada suami dan bertaubat atas maksiat besar yang dilakukannya. Namun jika perginya istri selama empat tahun itu telah didahului talak, sejak awal kepergiannya, maka pasti istri telah melewati masa Iddah, karena masa iddah itu habis dengan tiga kali suci dari haid, atau tiga bulan hijriyyah bagi wanita yang sudah menopause.

Karena istri telah melewati masa iddah, berarti dia telah tercerai dengan sempurna dan menjadi wanita lain. Untuk kembali menjadi istri maka harus dilakukan akad nikah baru (bukan Rujuk) dengan mahar baru, saksi baru dan wali. Namun jika talak suami diucapkan baru-baru saja (misalnya sebulan terakhir dari empat tahun masa perginya istri), maka berarti isteri masih berada dalam masa iddah. Dengan demikian berlaku syariat Rujuk, sehingga suami jika ingin menjadikannya sebagai istri kembali dia hanya perlu melakukan Rujuk dengan tatacara ang telah dijelaskan. Wallahua'alam.
http://www.suara-islam.com/read4339-Tatacara-Rujuk-Sesuai-Syariat-Islam.html

2 komentar:

  1. assalamuaikum ustd. saya ingin bertanya jika kita sudah di talak tiga kali dalam beberapa tahun kemudian telah habis masa iddahnya dan suami ingin rujuk kembali tapi dia tidak ingin saya menikah dengan orang lain dan tanpa kehadiran ibu saya atau keluarga di KUA apakah boleh? mohon penjelasan dan pencerahannya

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum pak ustad,
    saya gugat cerai suami sy tetapi dia tdk pernah mengucap kata 'cerai atau talak' putusan hakim sudah keluar bulan Juni 2013, sekarang saya ingin rujuk dengan suami,saya masih blm paham...apa saja syaratnya? terimakasih

    Wassalamualaikum

    BalasHapus